Pada awal musim Liga Voli Korea 2025-2026, roda permainan mulai bergerak dengan cepat. Dua tim yang menjadi finalis musim lalu, Incheon Heungkuk Life Pink Spiders dan Daejeon JungKwanJang Red Sparks, kini terlihat sedang menghadapi tantangan besar dalam memulai langkah mereka di musim ini.

Sebelumnya, kedua tim ini bersaing ketat hingga laga pamungkas untuk memperebutkan gelar juara. Namun, saat ini, keduanya justru mengalami kesulitan dalam meraih kemenangan. Hal ini menunjukkan bahwa proses transisi yang sedang mereka lalui cukup berat.
Beberapa faktor menyebabkan kejatuhan kinerja kedua tim tersebut. Khususnya bagi Red Sparks, mereka mengalami perubahan besar dalam susunan pemain. Dua spiker asing utama, Vanja Bukilic dan Megawati Hangestri Pertiwi, telah pergi. Selain itu, setter utama mereka, Yeum Hye-seon, masih dalam masa pemulihan cedera. Perubahan-perubahan ini memberikan dampak signifikan pada performa tim.
Sementara itu, Pink Spiders juga mengalami kerugian besar setelah kehilangan legenda voli Korea Selatan, Kim Yeon-koung, yang akhirnya gantung sepatu. Kehilangan pemain penting ini tentu berdampak pada komposisi dan strategi tim.
Dalam lima pertandingan putaran pertama, Red Sparks hanya mampu meraih dua kemenangan, sementara Pink Spiders bahkan hanya meraih satu kemenangan dari lima laga. Hasil ini membuat Pink Spiders tertahan di posisi kelima klasemen dengan lima poin, sedangkan Red Sparks berada di bawahnya.
Pink Spiders belum berhasil meraih kemenangan lagi sejak pertandingan pertama mereka, yaitu saat mengalahkan Red Sparks dalam laga empat set. Setelah itu, mereka terus menelan kekalahan beruntun melawan Suwon Hyundai E&C Hillstate, Gimcheon Korea Expressway Hi-Pass, GS Caltex Seoul KIXX, dan Gwangju AI Peppers Savings Bank. Terakhir, mereka kalah telak di kandang sendiri oleh AI Peppers dengan skor 0-3 (19-25, 18-25, 19-25).
Pelatih Pink Spiders, Tomoka Yoshihara, mengakui bahwa hasil minor yang diraih timnya mencerminkan kelemahan yang ada. Ia tidak ingin mengelak dari fakta ini.
“Kekalahan berarti kami lemah,” ujar Yoshihara setelah kekalahan dari AI Peppers.
“Kami harus terus berlatih dan berjuang menuju pertandingan berikutnya,” tambahnya.
Di sisi lain, tim-tim yang musim lalu kesulitan masuk empat besar kini justru tampil luar biasa. AI Peppers dan Hi-Pass menjadi dua tim teratas klasemen dengan delapan poin masing-masing. AI Peppers berada di puncak karena unggul dalam jumlah set kemenangan.
Pelatih AI Peppers, Chang So-yeon, mengakui bahwa hasil ini sangat berarti baginya. Ini adalah pertama kalinya AI Peppers berada di puncak klasemen setelah empat musim terakhir selalu berada di dasar klasemen.
“Perasaannya baik. Karena masih awal musim, saya tidak akan terlalu terpaku pada hasil ini,” kata Chang So-yeon.
“Saya akan lebih fokus pada pertandingan berikutnya. Namun, karena ini adalah kali pertama kami berada di puncak klasemen, tentu ada artinya.”
“Hari ini saya akan menikmati momen ini. Saya akan membawa kepercayaan diri, tetapi tidak akan terpaku pada kemenangan beruntun,” ujarnya.
AI Peppers memiliki keunggulan dengan adanya Haruyo Shimamura, seorang pemain kuota Asia yang merupakan bagian dari timnas voli Jepang. Pelatih Chang So-yeon mengatakan bahwa permainan Shimamura sangat penting bagi tim.
“Kami terus memantau persentase penguasaan bola Shimamura dan memberikan perhatian khusus padanya. Persentasenya bisa ditingkatkan lagi,” ucap pelatih AI Peppers.
“Selama latihan, kami juga meminta dia untuk melakukan berbagai macam permainan. Dia tidak hanya cepat, tapi juga memiliki kekuatan.”
“Serangan terbuka yang dia lakukan sangat kuat. Dengan dia mengganggu di tengah, beban di sisi menjadi lebih ringan. Efeknya cukup besar,” ujarnya.