Jakarta, IDN Times– Imajinari kembali merilis karya terbaru dengan judulTinggal Meninggal, yang dijadwalkan tayang pada 14 Agustus 2025. Film komedi kelam ini berhasil memikat penonton dengan humor yang menyentuh saatpress screeningdi XXI Epicentrum, Jakarta, Rabu (6/8/2025). Pada acara peluncuran film, sutradara Kristo Immanuel dan produser Ernest Prakasa berbagi pengalaman proses produksi di balik layar.

Rupanya, proses pembuatan ending film ini tidak berjalan dengan lancar, terdapat perdebatan yang produktif antara anggota tim produksi. Bagaimana proses ini memengaruhi film yang akhirnya ditampilkan kepada penonton?

1. Akhir cerita “Tinggal Meninggal” berbeda dari versi aslinya

Kristo menyampaikan adanya perdebatan mengenai adegan akhirTinggal Meninggal, sebelum akhirnya memutuskan menghadirkan film ini kepada publik.

Pada saat FGD kita juga sempat berdiskusi cukup lembut, ya, mengenaiending. Mungkin teman-teman tidak tahu ini adalahscene ending yang final, karena sebelumnya scene ending-nya bukan begitu. Apa? Tidak,” kata Kristo sambil menyela dengan candaan.

Rupanya, versi ending film ini berbeda dengan versi awal yang terdapat dalamscript ataupun dalam FGD. Adegan terakhir yang akan ditonton di bioskop adalah versi ketiga.

“Di draft pertama script bukan seperti ini, dalam FGD bukan seperti ini, dan hasilnya ada di versi ketiga. Versi ketiga dariending-nya,” tambah Ernest.

2. Ernest menekankan rasa yang tersisa bagi penonton bioskop

Sebagai seorang produser, Ernest sendiri menekankan pentingnya “after tasteyang dirasakan setelah menonton Tinggal Meninggal.

“Ini (soal) ending-nya sangat banyak diperdebatkan. Karena hal ini yang menentukan tadi,after taste keluar dari bioskop itu apa yang dirasakan seperti itu,” katanya.

Ernest berupaya menyeimbangkan kadar dark agar tetap unik dan freshnamun di sisi lain tetap menyenangkan dan memicu perdebatan ketika penonton meninggalkan bioskop.

“Mungkin nanti jika dikirim ke festivalending-nya berbeda ya, to? Kristo sudah memperhatikan kalau ada festivalending-nya berbeda,” tambah Ernest dengan nada bercanda tentang peluncurandirector’s cut di kanal YouTube Kristo.

3. Pernah membahas unsur komedi gelap yang terkandung di dalamnya

Tak cuma ending, proses kreatif juga melibatkan diskusi yang panjang mengenai sejauh mana unsurdark comedy atau komedi getir dimasukkan.

Namun, Ernest kembali menekankan perasaan penonton setelah menyelesaikan menonton film ini dan meninggalkan bioskop.

“Karena kalau misalnya dark-nya terlalu berlebihan, begitu keluar aku merasa takut dan ketidaknyamanannya terlalu besar.dominant. Jadi semua perasaan hangat, lucu, haru, kasihan terhadap Gema, simpati terhadap orang-orang seperti Gema tertutup oleh perasaan, ‘Aduh, kok begitu ya?’ Jadi ada yang selalu kugunakan,” tambahnya.